Rabu, 31 Oktober 2018

CIPANARIKAN, PANTAI TERSEMBUNYI DI UJUNG GENTENG

 
 
 
 
 
 
5 VOTES

Tidak sia-sia saya, Puput dan Oliq jauh-jauh datang ke Ujung Genteng, Sukabumi beberapa minggu lalu. Jalan buruk dan berliku bikin pantat tepos. Dan butuh waktu 9 jam! Itu baru ke Ujung Gentengnya. Ke Pantai Cipanarikan lebih penuh perjuangan lagi.
Pantai Cipanarikan di Ujung Genteng
Pantai Cipanarikan di Ujung Genteng
Ceritanya hari ketika kami berangkat dari Jakarta hujan sepanjang jalan. Sembilan jam itu hujan tanpa henti, mulai dari gerimis hingga hujan lebat, hanya diselingi sedikit kremun (apa ya bahasa Indonesianya?).
Jadi, keesokan harinya ketika kami akan jelajah pantai, mustahil pakai mobil. Ke Pangumbahan saja tidak mungkin pakai mobil karena jalan pantai runtuh. Akhirnya kami menyewa 2 ojek, masing-masing 120 ribu diantar ke Pangumbahan, Cipanarikan, Batu Besar, dan lokasi surfing. Di sini saya mau tulis tentang Cipanarikan saja, tugasnya Puput yang tulis seluruh perjalanan ke Ujung Genteng.
Jadilah dua motor baris menuju Cipanarikan yang jauhnya sekitar 6km dari penginapan kami. Awalnya kami pikir, mahal ya, 120 ribu per motor ternyata sepadan lah sama perjalannya. Puput mbonceng Aa’ Ojek Cep pakai motor laki-laki (kalau bahasa Jawa-nya montor lanang), sementara saya dan Oliq dengan Aa’ Ojek satunya, pakai motor Mio.
Jalan pantai memang hilang begitu saja, jadi harus lewat jalan lain yang merupakan kombinasi antara jalan berlumpur dan kubangan. Kubangannya saja nggak kira-kira, bisa sampai menyentuh kaki Oliq, sampai hampir selutut kaki saya yang membonceng motor. Udah khawatir aja sama nasib motor-motor itu.
Jalan berlumpurnya juga superb deh. Saya kudu pegangan kenceng-kenceng sama Aa’ Ojek. Pasrah bongkokan pokoknya, fokus saya cuma jagain Oliq biar nggak jatuh.
Setelah melalui puluhan blethokan, sampai juga kami di sebuah pohon besar dengan amben dari bambu. Tampaknya ini adalah tempat nongkrong tukang-tukang ojek yang disewa wisatawan.
Menembus hutan ke Cipanarikan
Menembus hutan ke Cipanarikan
Dari sini kami masih harus berjalan kaki 400 meter melewati pematang sawah, padang ilalang yang super rimbun sampai seperti gua.
Muara Sungai Cipanarikan
Muara Sungai Cipanarikan
Ternyata, perjalanannya sungguh sepadang. Pantai Cipanarikan merupakan muara dari Sungai Cipanarikan yang berwarna hijau. Pantainya sendiri maha luas. Jarak bibir pantainya lebar.
Oliq langsung ndeprok di pasir untuk mainan pakai pesawat-pesawat-nya. Aa’ Ojek Cep nemenin dia mainan pasir sambil telponan sama pacarnya.
Oliq sibuk mainan, Simbok dan Bapaknya ngeksis sendiri
Oliq sibuk mainan, Simbok dan Bapaknya ngeksis sendiri
Simbok dan bapaknya Oliq tentu saja foto-foto. Udah jauh-jauh ke sini harus dimanfaatkan dong. Biarin aja kalau anaknya nggak mau foto, kami bisa foto pre-wed lagi.
Pasir di sini juga halus namun mempur, susah untuk pose-pose aneh karena pasir tidak padat. Jadinya saya dan Puput bolak-balik jatuh saat berfoto. Pose meloncat juga susah karena pijakannya tidak keras.
Secara umum Pantai Cipanarikan ini memang benar-benar surga yang tersembunyi, hanya bisa diakses dengan motor. Pasir putih luas nan bersih. Hanya tampak beberapa pengunjung lain di pantai ini padahal saat itu adalah akhir pekan panjang.
Ketika pulang kami melihat sebuah mobil plat B yang ditumpangi tiga pemuda-pemudi terperosok di kubangan sampai tidak bisa bergerak dan mesin mobil mati. Kasihan sebenarnya, tapi mau menolong kami bisa apa? Jadi uang yang Rp 120 ribu x 2 itu memang layak dibayarkan!
The sky is falling. Run, baby, run!


0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

10 top makanan disukabumi

About

Popular Posts

Blog Archive